Infrastruktur

Soal Kebakaran Hutan, Bambang Haryo Kritisi KLHK

INTRA – Anggota Komisi V DPR RI, Bambang Haryo Soekartono mengkritisi Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang dipimpin oleh Siti Nurbaya. Ia menilai, KLHK telah gagal dalam menjalankan tugas-tugas kenegaraannya. Hal itu tak lepas dari Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang kembali terjadi di wilayah Kalimantan dan Sumatera.

“Yang harus bertanggungjawab sepenuhnya adalah KLHK. KLHK harus bertanggungjawab total dan saya sebagai wakil rakyat menyarankan harus dicopot, karena dalam 5 tahun terakhir ini setidaknya sudah 5 kali berturut-turut terjadi kebakaran hutan, dan Menteri nya tidak bisa menyelesaikan persoalan ini,” kata Bambang kepada wartawan, Rabu (14/8/2019).

Terlebih lagi, lanjut Bambang, Menteri LHK tidak memiliki background pendidikan yang berkaitan dengan kehutanan. Hal tersebut juga menjadi salah satu faktor penyebab gagal nya menteri dalam merawat hutan-hutan yang ada di Indonesia. 

“Pak Jokowi juga memilih orang yang tidak kompeten, karena pendidikannya menteri LHK ini bukan kehutanan tapi pertanian. Akhirnya tidak bisa urus hutan dan bila terbakar gak bisa memadamkan,” tegas nya.

“Dan tahun 2015 hutan kita kebakaran juga, lalu padam karna hujan bukan karena dipadamkan pemerintah. Dulu kebakaran luas juga sekitar 6.000 titik dan sekarang mendekati 4.000 titik. Kalau ini dibiarkan akan semakin banyak, dan hanya bisa dipadamkan pas musim hujan saja,” imbuh Bambang.

Politisi senior Gerindra itu menilai, kebakaran hutan terjadi karena tidak terawat. Hutan nya kering, pohon-pohon nya banyak yang tua. Dari 125 juta hektare hutan di Indonesia, sekitar 60 persen nya rusak, tidak terawat dan kering.

“Hutan-hutan tersebut salah satunya ada di Kalimantan, Sumatera, pegunungan-pegunungan yang dikelola perhutani, gunung Ceremai, Sumbing, gunung Bromo, dan masih banyak hutan-hutan lainnya yang rusak karena terbakar,” ujar Bambang.

Padahal sesuai UU No 41 tahun 1999 pemerintah harus bertanggung jawab karena memiliki kewajiban untuk melestarikan dan melindungi hutan.

“Berdasarkan pasal 1 ayat 8 Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah untuk fungsi resapan air,” jelas Bambang.

“Pemerintah ini tidak bisa menjamin keberadaan hutan dan mengoptimalkan fungsinya. Sesuai dengan UU kehutanan, fungsi hutan ini untuk konservasi, perlindungan, dan produksi yang untuk manfaat sosial budaya ekonomi yang seimbang dan lestari,” imbuh nya

Jadi, tegas Bambang, ini adalah tanggungjawab pemerintah. Hutan ini isinya flora dan fauna yang tidak ada di negara lain. Hutan Indonesia ini luar biasa, itu harus dijaga oleh pemerintah. Tapi pemerintah tidak melakukan itu dengan penjagaan yang seperti dilakukan oleh Negara tetangga seperti Malaysia.

“Kalau di Malaysia yang hutannya sekitar 25 juta hektare tidak pernah terbakar mulai tahun 1983. Mereka SDM nya kompeten dan alat-alat pemadam dan perawatan hutan mulai helicopter heavy ada 5, medium 5, yang kecilnya 2 untuk rescue aktif dan alat-alat lain hovercraft jetsky,” papar nya.

“Dengan tanggap darurat yang responsif juga dilengkapi tim fire danger ratting system untuk mengetahui dengan early warning system. Misalnya 1. Smoke Potensial Indicator, 2. Air Quality Analysis (kualitas udara), 3. Final pendeteksian kelembaban, indikator nya dipantau oleh pemerintah,” tambah nya.

Lebih jauh, pria kelahiran Balikpapan itu juga menyebutkan, bahwa kondisi anggaran KLHK sudah baik atau naik secara signifikan jika dibandingkan era Presiden ke-6 RI Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Padahal kondisi anggaran naik dua kali lipat dibanding zaman nya pak SBY, tapi persoalan kebakaran hutan tidak dapat teratasi. Dan sekarang ini pemerintah mencari kambing hitam daripada penyebab kebakaran ini. Dan banyak sekali masyarakat yang gak tau apa-apa ditangkap, katanya melanggar, melakukan satu pembakaran hutan. Tidak ada masyarakat yang melakukan pembakaran hutan, nah ini semua sebenarnya tugas tanggungjawab KLHK,” papar Bambang lagi.

“Bahkan, saya pikir masyarakat yang kena dampak asap, bahkan ada yang sakit dan semacamnya, rumah-rumah pun jadi korban kebakaran hutan itu harusnya bisa menuntut pemerintah, baik perseorangan maupun kelompok,” imbuh nya.

Sebab, menurut Bambang, pemerintah gagal dalam melakukan perawatan hutan dan itu instruksi presiden untuk mencopot Kapolda maupun Pangdam karena kebakaran hutan ini hanya isapan jempol saja. Karena sampai saat ini belum ada yang dicopot.

“Tapi ini sebenarnya bukan kesalahan Kapolda ataupun Pangdam, tapi Tupoksi nya adalah KLHK. Harusnya presiden bisa memecat Menteri LHK, jadi bukan mecat Kapolda ataupun Pangdam, mereka kan tugasnya mengamankan dan mempertahankan wilayah,” tegas nya.

Bambang menyampaikan pesan kepada Presiden Jokowi, harus jeli dalam mengangkat orang sebagai mandatris presiden (Menteri). Harus yang berkompeten dan memiliki capability, “terlebih lagi pak Jokowi ini lulusan Fakultas Kehutanan, harusnya beliau jeli dan bisa mengatasi persoalan ini,” pungkas Bambang.

Penulis : Enjang Sofyan
Foto : Enjang/INTRA

Enjang Sofyan
Editor Majalah INTRA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *