Transportasi Udara

Kerja Sama Mahata dan Garuda Tuai Polemik, Begini Kronologinya

INTRA – Kerjasama antara PT Mahata Aeoro Teknologi (MAT) dengan Garuda Indonesia Group di bidang penyediaan WiFi gratis di pesawat menuai polemik.  

PT Mahata Aero Teknologi (MAT) sendiri dalam menjalankan kerjasama dengan Garuda Indonesia tidak seorang diri, ia menggandeng perusahaan agen penjualan Tiket.com pada awal Januari 2019 sebagai rekan kerjanya.

Nilai kesepakatan bisnis antara Mahata dan Tiket.com ditaksir mencapai 500 juta dolar AS, atau jika setara Rp7,25 triliun (kurs Rp14.500). Namun demikian, baik Mahata maupun Tiket.com, sama-sama masih merahasiakan bentuk dan skema kerja sama yang terjalin.

Chief Marketing Officer Tiket.com Gaery Undarsa menjelaskan, kerja sama dengan Mahata merupakan misi perusahaan untuk menguasai pasar penjualan tiket online di Indonesia pada tahun 2019.

“Tiket.com memandang Mahata sebagai mitra yang tepat untuk meningkatkan ketertarikan pangsa milenial. Sebagai langkah awal, kami (Mahata dan Tiket.com) akan bekerja sama untuk menyuplai kebutuhan WiFi gratis di atas pesawat Citilink Indonesia,” ujar Gaery beberapa waktu yang lalu.

Sementara itu, Direktur Niaga Citilink Indonesia Benny Rustanto mengungkapkan, pihaknya sangat mengapresiasi langkah dua perusahaan startup lokal untuk membantu dan mengembangkan kualitas penerbangan nasional.

“Saya sangat bangga melihat keberanian startup lokal seperti Mahata Group dan Tiket.com dalam menjawab tantangan global untuk memajukan industry penerbangan dalam negeri,” kata Benny.

Akan tetapi seiring berjalannya waktu, kerja sama antara Mahata dengan Tiket.com menghadapi kendala. Garuda Indonesia yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) penerbangan terbesar dalam negeri, disebutkan belum menerima pembayaran kontrak dari Mahata sebesar 241,94 juta dolar AS.

Belum teralisasinya dana pembayaran dari yang diperkirakan berjumlah Rp3,37 triliun ini ternyata telah dimasukkan dan dicatat ke dalam laporan keuangan Garuda Indonesia. Hal ini berujung pada penolakan dua Komisarisnya, yakni Chaerul Tanjung dan Dony Oskaria untuk menandatangani laporan keungan perseroan tahun 2018 lalu.

Chaerul Tanjung dan Dony Oskaria menilai, seharusnya Garuda Indonesia tidak perlu memasukan biaya kompensasi hak pemasangan peralatan konektivitas dan pengelolaan layanan in-flight entertainment dari Mahata kedalam laporan keuangannya. Alhasil, Garuda pada tahun lalu, berhasil mencatatkan keuntungan sebesar 809,84 ribu dolar AS, membaik dari 2017 yang rugi 216,58 juta dolar AS.

Kejanggalan laporan keuangan inilah yang membuat Kementerian BUMN angkat suara terkait kemungkinan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) kembali mengaudit ulang laporan keuangan untuk tahun buku 2018 yang ditolak dua Komarisnya.

Melalui Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei, dan Jasa Konsultasi Kementerian BUMN, Gatot Trihargo menyebut, Kementerian BUMN akan menyerahkan seluruhnya kembali ke regulator. “Kita serahkan ke regulator. Kita ikut saja, kan proses sudah jalan,” kata Gatot, pada Jumat (3/5/2019) lalu.

Penulis : Masade
Foto : Enjang/INTRA

Enjang Sofyan
Editor Majalah INTRA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *