Darat Laut Transportasi

Perkuat Tol Darat dan Laut Mampu Tekan Disparitas Harga

INTRA – Penulis buku ‘Memadu Fungsi Tol Darat dan Laut Menggugah Keadilan Distributif dan Komutatif, Ansel Alaman’ mengatakan, Program tol laut yang sudah berjalan 4 tahun lebih dinilai mampu mengurangi disparitas harga, khususnya di kawasan Indonesia Timur.

Ansel juga menambahkan, bahwa disparitas, konektivitas serta luas wilayah Indonesia menjadi alasan pentingnya memadukan fungsi tol darat dan laut.

“Persoalan tersebut menjadi dasar, dan telah diupayakan solusinya oleh pemerintah dan legislatif (DPR-red). Karenanya buku ini berfokus pada upaya pemerintah mewujudkan kerja sama swasta memadukan keduanya, tol darat dan laut,” kata Ansel dalam acara Bedah Buku ‘Memadu Fungsi Tol Darat dan Laut Menggugah Keadilan Distributif dan Komutatif’, di Jakarta, Kamis (12/4/2019).

Dalam acara bedah buku tersebut, Ansel mengutarakan, bahwa kebijakan yang berjalan di sektor maritim dalam empat tahun terakhir, termasuk sektor anggaran serta posisi tawar pemerintah dengan legislatif.

“Karya tulis ini mengalir dari ‘hulu’ yakni menyoroti infrastruktur dasar dan transportasi sebagai ‘public goods’ untuk ‘public service’,” ujar dia.

Karya tulisnya tersebut banyak menyoroti soal kebijakan-kebijakan tol laut. Salah satu perwujudan tol laut telah diimplementasikan melalui Program Kontainer Masuk Desa. Program ini ditandai dengan pengiriman perdana tiga ton beras yang diangkut kapal Tol Laut KM Logistik Nusantara II dengan tujuan desa-desa di kecamatan Essang Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara, dari Surabaya, Jawa Timur.

Selain diharapkan mampu menurunkan disparitas harga, program kontainer masuk desa diharapkan juga dapat memastikan ketersediaan berbagai bahan pokok dan penting di wilayah desa yang selama ini belum maksimal.

Senada dengan Ansel, Direktur Usaha Angkutan Kargo dan Tol Laut PT Pelni, Harry Budiarto mengatakan, angkutan tol laut yang selama ini berjalan cukup menggugah, karena mampu mengurangi disparitas harga secara langsung.

“Kami sangat merasakan bahwa manfaatnya begitu besar mengurangi disparitas harga sebab selama ini harga yang diterima masyarakat kepulauan itu adalah harga dari kota-kota besar atau tidak langsung, sekarang justru bisa langsung,” ujar Harry, di lokasi dan waktu yang sama.

Ia juga berharap program tol bisa berjalan tanpa mengurangi anggaran yang disediakan pemerintah.

“Untuk kendala-kendala pada akhirnya bisa berjalan dengan sendirinya, misalnya selama ini kita yang angkut dan mendistribusikannya juga masih lewat PT Pelni. Sekarang sudah ada regulasi baik itu dari Kemendag maupun Dinas Perdagangan setempat,” ucap nya.

Kemudian Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Kyatmaja Lukman mengatakan, tol laut tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan jalur angkutan darat. Apa yang dilakukan pemerintah dengan membangun jalur tol bisa dimanfaatkan namun belum begitu maksimal.

“Kami berharap ada kluster-kluster yang dilalui di sepanjang jalan termasuk jalan tol sehingga muatan kendaraan yang kewat tidak harus kendaraan besar, tapi ada kendaraan pengumpul yang mendistribusikan lewat pergudangan,” ujar nya.

“Pemerintah juga harus berperan namun sebagai fasilitator. Penggeraknya pada akhirnya bisa dilakukan lewat sektor swasta,” imbuh nya.

Hadir sebagai narasumber pada acara bedah buku tersebut, Direktur Usaha Angkutan Kargo dan Tol Laut PT Pelni Harry Budiarto, Akademisi dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya Raja Oloan Saut Gurning dan Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia Kyatmaja Lookman.

Penulis : Enjang Sofyan
Foto : Enjang/INTRA

Enjang Sofyan
Editor Majalah INTRA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *