Arsitektur Infrastruktur

Melirik Menara Phinisi, Gedung Tertinggi Pertama di Indonesia

INTRA – GPPA UNM atau yang terkenal dengan nama Menara Phinisi UNM merupakan gedung tinggi pertama di Indonesia dengan sistem fasade Hiperbolic Paraboloid, yang merupakan ekspresi futuristik dari aplikasi kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Bangunan hasil sayembara ini sebagai perwujudan dari serangkaian makna, fungsi, dan aplikasi teknologi yang ditransformasikan ke dalam sosok arsitektur. Kekayaan makna tersebut akan meningkatkan nilai arsitektur GPPA UNM menjadi lebih dari sekedar sosok estetis, tetapi juga memiliki keagungan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

UNM sendiri adalah kampus keguruan negeri terbesar di Makassar bahkan Indonesia Timur. Pada malam hari akan ada 12 kerlap kerlip warna gedung yang bersinar bergantian di fasad gedung. 12 warna itu mewakili 12 fakultas yang ada di UNM. Menara ini sejatinya adalah hasil sayembara, pada tahun 2008 UNM mengadakan sayembara perancangan arsitektur gedung GPPA.

Pada saat pengumuman pada tanggal 13 Januari 2009, terpilihlah nama Yu Sing sebagai juara. Ia berhak mendapat hadiah sebesar Rp. 40 juta serta karyanya direalisasikan. Menara Phinisi ini mengambil konsep Perahu Phinisi, yakni perahu khas Bugis-Makasar yang terkenal sejak dulu kala. Perahu Phinisi dipakai oleh Orang Bugis-Makassar dalam menjelahaji samudra nusantara.

Sementara untuk filosofi arsitekturnya diambil seperti pada rumah tradisional Makassar yang terdiri dari 3 bagian (kolong/awa bola, badan/lotang, dan kepala/rakkeang) dan dipengaruhi struktur kosmos (alam bawah, alam tengah, dan alam atas), GPPA UNM juga terdiri dari 3 bagian.

Secara umum bangunan ini terdiri dari 3 bagian. Pertama, bagian bawah berupa kolong/panggung. Bagian ini posisinya terletak sekitar 2 meter di atas jalan agar bangunan terlihat lebih megah dari lingkungan sekitar. Lantai kolong ini didesain menyatu dengan lansekap yang didesain miring sampai ke pedestrian keliling lahan.

Kedua, bagian badan berupa podium, terdiri dari 3 lantai, simbol dari 3 bagian badan pada Rumah Tradisional Makassar (bagian depan/lotang risaliweng, ruang tengah/Lotang ritenggah, dan ruang belakang/Lontang rilaleng). Bagian podium ini juga bermakna ganda sebagai simbol dari tanah dan air.

Ketiga, bagian kepala berupa menara, terdiri dari 12 lantai yang merupakan metafora dari layar perahu pinisi dan juga bermakna ganda sebagai simbol dari angin dan api.

Lansekap GPPA UNM didesain seoptimal mungkin untuk mendukung proses belajar dan sosialisasi antar penghuni kampus yang nyaman. Seluruh lahan di sekeliling bangunan dimanfaatkan sebagai lansekap. Berbagai elemen lansekap yang utama adalah pertama, hutan kampus di sekeliling bangunan GPPA UNM.

Hutan dengan berbagai pohon peneduh, berfungsi sebagai penyaring debu dan kebisingan suara dari jalan dan lingkungan sekitar, sumber penghasil oksigen dan penyerap polutan, pembentuk ekosistem baru bagi berbagai burung, kupu-kupu, atau serangga lainnya dan pagar pembatas alami antara jalan/orang luar dengan bangunan/ penghuni kampus.

Sejak diumumkannya pemenang sayembara, proses perencanaan gedung ini mulai diperbincangkan UNM hingga ditahun 2013 gedung ini sudah rampung.

Bangunan ini merupakan contoh perpaduan arsitektur lokal nusantara yang penuh filosofi dengan arsitektur modern masa kini yang penuh dengan kecanggihan teknologi. Bangunan ini menjadi contoh pelestarian arsitektur nusantara di masa kini yang sudah sepantasnya ditiru oleh praktisi arsitektur di Indonesia.

Penulis : Alan
Foto : Istimewa

Enjang Sofyan
Editor Majalah INTRA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *