Arsitektur Infrastruktur

Kiprah Arsitek Indonesia di Level Dunia

INTRA – Karya-karya Arsitek Indonesia sudah menjalar ke berbagai penjuru dunia. segudang prestasi telah diraih. tak pernah gentar menghadapi kompetisi yang ketat.

Arsitek Indonesia ternyata memiliki kemampuan yang tak diragukan lagi. Mereka merancang atau mendesign suatu bangunan dengan sangat mahir. Oleh sebab itu, karya-karya mereka digunakan di berbagai pelosok dunia.

Diceritakan oleh Sekjen Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ariko Andikabina, bahwa di tahun 2017 lalu para Arsitek Indonesia baru saja memamerkan hasil karya-karyanya di Seoul, Korea Selatan. “Kami membuat pameran di Seoul, dan mereka (para tamu) kagum dengan hasil karya-karya Arsitek Indonesia. Kagum dengan design-design kami yang sedemikian rupa,” kata Ariko, di Kantor Pusat IAI, Gedung JDC, Jalan Jenderal Gatot Subroto No 53, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (18/12/2018).

Tujuan dari pameran tersebut, Ariko mengatakan, untuk lebih memperkenalkan hasil karya anak bangsa di mata Internasional. Bahkan selama ini sudah banyak karya Arsitek Indonesia yang digunakan oleh berbagai negara, “Misalnya saja ada Prof. Danisworo yang karya-karya nya digunakan di mancanegara,” kata Ariko.

Jika melihat sejarahnya, Ia melanjutkan, ada masa-masa Arsitek Indonesia sangat berjaya sekitar tahun 1960-an. Banyak hasil karya anak bangsa bermunculan, “seperti Monas, DPR/MPR, Masjid Istiqlal, patung – patung ikonik Jakarta, dan masih banyak yang lainnya,” terang Ariko.

Namun, saat ini memang Arsitek Indonesia sedikit kalah bersaing dibandingkan dengan masa-masa berjaya itu, “meski begitu dalam bebeberapa hal kita kuat, misalnya saja sepanjang Jalan Thamrin itu banyak karya arsitek asli Indonesia,” tegas dia.

Keterlibatan Arsitek Indonesia

Terlebih lagi, Ariko mengatakan, saat ini Pemerintahan Jokowi sedang gencar – gencarnya melakukan pembangunan infrastruktur. Arsitek Indonesia kerap dilibatkan dalam pembangunan infrastruktur tersebut. “Misalnya saja dalam perhelatan olahraga Asian Games, ada 9 venue yang kami rubah. Kemudian juga ada Bandara-bandara yang kami juga terlibat perancangan design, salah satunya Bandara Banyuwangi,” tutur Ariko.

Ditambahkan oleh Wasekjen IAI Denny Setiawan, bahwa saat ini IAI memiliki anggota sekitar 15.000 yang aktif di Indonesia. Sedangkan yang sudah memiliki Surat Tanda Registrasi (STRA) baru 4.000 anggota.

“Kita punya IAI cabang di seluruh Provinsi yang ada di Indonesia. Setiap daerah didorong Tim Ahli Bangunan Gedung (TABG) yang juga ikut mengawasi pembangunan di daerahnya. Artinya pembangunan – pembangunan di Provinsi juga ada kontribusi dari arsitek lokal. Kita juga perlu menjaga daerah-daerah dalam pembangunan infrastruktur yang baru. Arsitek Indonesia punya tim Cagar Budaya untuk memberikan masukan-masukan ke daerah Provinsi atau Kabupaten. Karena selain proses pembangunan kita juga peduli Cagar Budaya,” Denny memaparkan.

Lebih jauh, Denny mengatakan, tantangan dan peluang bagi Arsitek Indonesia ke depan begitu besar. Tantangannya yaitu persaingan yang makin ketat. Misalnya saja pasar bagi Arsitek di Eropa itu sudah menipis, “maka dari itu banyak Arsitek asing yang masuk ke Indonesia,” ujar nya. Sedangkan peluangnya sendiri adalah pasar di Indonesia ini masih sangat besar. Karena masih banyak daerah-daerah yang belum dibangun infrastruktur, “jadi di situlah peluang kita,” pungkas Denny.

Penulis : Enjang Sofyan
Foto : Istimewa

Enjang Sofyan
Editor Majalah INTRA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *