Opini

Membangun Jalur Rel Mendorong Pariwisata

Djoko Setijowarno (Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata, Semarang)

INTRA – Di Indonesia, untuk mengujungi lokasi wisata harus menggunakan kendaraan pribadi atau menyewa kendaraan bagi yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Sangat minim sekali tersedianya transportasi umum yang terjadwal menuju lokasi wisata.

Mestinya pemerintah mendorong swasta untuk menyediakan sarana transportasi umum yang terjadwal dari Kota Semarang, Solo dan Yogyakarta, sehingga bagi perorangan yang akan ke Borobudur tidak perlu menyewa kendaraan.

Demikian pula untuk lokasi wisata yang lain, hendaknya tersedia jaringan layanan transportasi umum yang rutin. Jika kita ke Malaysia, akan mengunjungi Tanah Genting Kra, sudah tersedia bus umum di KL Centre, Stasiun Kereta di pusat Kota Kuala Lumpur.

Selama ini turis dari sejumlah kapal pesiar yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Emas di Semarang sudah bisa dan terbiasa ke Borobudur pulang pergi dengan menyewa bus D menggunakan jalan yang sudah ada (Tol Semarang – Bawen dan ruas jalan Bawen – Magelang). Bahkan, bisa singgah melihat Museum KA Ambarawa yang sekarang sudah tertata dengan apik.

Jika nanti melewati Tol Bawen-Yogya, bisa jadi turis tidak akan singgah lagi melihat Museum KA Ambarawa lagi, sehingga bisa kehilangan pemasukan dari turis kapal mewah.

Tidak harus semua kawasan wisata harus ada akses jalan tol. Jalan umumpun sudah cukup, tinggal bagaimana mengelola jalan yang ada. Ruas jalan Magelang-Semarang memang menjadi jalur truk pasir. Karena muatannya berlebih menyebabkan laju kendaraaa lain menjadi terganggu.

Dalam Rencana Strategis (Renstra) Bidang Perkeretaapian Kementerian Perhubungan 2020-2024, terdapat tiga lintas KA yang menjadi terget diaktifkan, yaitu lintas Purwokerto-Wonosobo, lintas Semarang – Rembang dan lintas Kedungjati – Secang – Magelang – Yogyakarta.

Pasarkan Produk Lokal

Cara PT KAI ketika membangun jaringan KA Bandara Soekarno Hatta perlu ditiru. Masyarakat tidak kehilangan peluang pekerjaan dan mendapatkan jaminan hidup dengan menempatkan salah satu anggota keluarganya menjadi pegawai di PT KAI. Selain itu juga mendapat uang pengganti atas lahan dan tempat tinggal terkena pembangunan jalan rel tersebut. Tol yang sudah terbangun di Pulau Jawa tidak seluruhnya semua kota harus terhubungan jaringan jalan tol. Apalagi masih ada alternatif lain yang lebih murah, lebih cepat dan lebih mudah dikerjakan.

Tol yang terbangun dipastikan akan menerjang sejumlah lahan produktif dan menghilangkan mata pencaharian sebagai petani penggarap. Pemilik lahan bisa mendapatkan uang ganti lahan.

Sementara petani penggarap lahan pertanian pasti akan kehilangan pekerjaan. Sejumlah petani yang kehilangan mata pencaharian sebagai dampak Tol Trans Jawa hingga sekarang masih banyak yang belum mendapatkan pekerjaan pengganti. Jangan sampai nantinya terkesan pembangunan jalan tol menghilangkan mata pencaharian petani penggarap.

Aktifkan Jalur Sepur

Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT) telah menghitung investasi yang harus dikeluarkan dalam proyek pembangunan jalan tol Bawen – Yogyakarta sekitar Rp10,72 triliun. Jumlah tersebut dihitung dari 1,5 kali dari panjang tol dikali investasi per kilometer, yaitu sekitar Rp 100 miliar. Ruas panjang tol ini dibangun sepanjang 71,5 kilometer (km), sehingga total investasi yang harus dikeluarkan sebesar Rp10,72 triliun.

Antara Yogya-Semarang juga pernah ada layanan moda kereta. Namun di beberapa lintas menjadi jalur rel yang non aktif. Yang masih aktif adalah lintas Semarang hingga Kedungjati (35 km) untuk kerata penumpang dan logistik. Sementara lintas Tuntang – Ambarawa – Bedono (16 km) digunakan untuk jalur kereta wisata.

Lintas yang tidak aktif antara Kedungjati-Tuntang dan Bedono – Secang – Magelang hingga Yiogyakarta. Ada 14 stasiun dan 16 halte tidak aktif antara Bedono hingga Yogyakarta. Sementara antara Kedungjati – Tuntang (30 km) terdapat 3 stasiun dan 2 halte yang tidak aktif. Jalur Kedungjati-Tuntang muali tahun 2014 sudah dilakukan revitalisasi.

Namun sejak 2016 terhenti karena ada masalah kajian amdal yang belum tuntas. Namun sekarang sudah bisa diselesaikan, mulai tahun 2019 dianggarkan terbangun sepanjang 15 km dan tahun 2020 sisanya (15 km). Harapannya di akhir tahun 2020 sudah bisa terhubung Semarang-Ambarawa.

Membangun jalur kereta hanya menertibkan lintas yang ditempati warga. Sementara membangun jalan tol harus mengggurus tempat tinggal warga dan menghilang sejumlah lahan produktif. Artinya, tidak perlu lagi ditambah jaringan Tol Cilacap-Yogyakarta, Yogyakarta-Solo dan Bawen-Yogyakarta. Justru mengaktifkan jalan rel se Pulau Jawa yang jadi terget berikutnya dilakukan pemerintah akan datang. Masterplan Jaringan KA Pulau Jawa sudah ada dan Rencana Induk Perkertetapian Nasional (RIPNAS) sudah diterbitkan.

Disclaimer : Isi Diluar Tanggung Jawab Redaksi

Enjang Sofyan
Editor Majalah INTRA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *