Komunitas Pariwisata

Halu Squad FPV: Tumbuh Dari Semangat Persaudaraan

INTRA – Berawal dari Group Whatsapp, mereka membentuk komunitas penggemar drone (pesawat tanpa awak) dengan nama; Halu Squad FPV. Semangat persaudaraan memang kental.

Komunitas drone asal DKI Jakarta ini terbentuk sejak Januari 2018 lalu, kini terus berkembang. Seperti diungkap salah satu founder Halu Squad FPV, Andrew Julian.

Ia mengisahkan awal terbentuknya Halu Squad PFV, “Saat itu, saya sedang main di suatu tempat bersama teman-teman SMA, kemudian tidak sengaja saling ketemu satu sama lain yang dalam hal ini sehobi,” ungkapnya.

Sejak itu mereka sepakat membuat sebuah Grup Whatsapp untuk memudahkan berkomunikasi membahas sejumlah agenda kumpul bersama, “Lama-lama komunitas ini berkembang sampai member atau anggotanya mencapai puluhan orang,” ujar Andrew.

Selain agenda pertemuan, Andrew menambahkan, juga membicarakan terkait informasi seputar drone. “Kami berbincang soal sharing update terkini soal drone, baik dari membicarakan upgrade firmware pada flight controller, ataupun teknologi baru,” kata dia.

Silaturahmi Lewat Hobi

Tak terasa usia Komunitas Drone Halu Squad FPV hampir menginjak satu tahun. Tentunya, imbuh Andrew, di usia yang masih seumur jagung itu, Ia berharap Komunitas ini tetap bisa eksis dan semakin solid satu sama lain.

Lebih jauh, Pria asal Jakarta itu juga membeberkan terkait jenis-jenis drone yang kerap kali digandrungi masyarakat Indonesia. “Fokus komunitas Halu Squad FPV khususnya ini lebih ke arah drone FPV (First Person View) Freestyle dan drone FPV Race.

Oleh sebab itu, untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari pengambilan gambar ataupun video, maka drone pun harus dipersenjatai dengan kamera yang berkualitas tinggi. Dan tentu itu semua diperlukan budget yang lumayan menguras isi dompet. Sebut saja Andrew dan teman-temannya yang rela merogoh kocek hingga jutaan rupiah demi memiliki drone yang berkualitas tinggi.

“Kita bisa mengeluarkan uang sekitar Rp 3 jutaan untuk drone yang sudah jadi, sudah siap diterbangkan. Kalau misalkan kita ingin rakit sendiri bisa mulai dari angka Rp 2 jutaan. Nah kalau kita beli yang Rp 2 jutaan kita ngumpulin komponen-komponen drone lainnya lagi. Seperti motornya, flight controller, elektronik stabilisasi kontrol,” ujar Andrew.

“Sedangkan untuk merek drone yang biasa kami pakai itu TBS (Team Black Sheep),” imbuh Andrew. TBS sendiri, Ia menuturkan, sangat populer di Indonesia dan biasanya digunakan untuk race atau balapan. Pada bagian lain, Andrew berharap kepada pemerintah Indonesia agar bisa mewadahi anak-anak muda yang memiliki hobi dan komunitas drone. Karena aktifitas ini merupakan hal yang positif, dan dapat memacu adrenalin, “Termasuk jika diadakan perlombaan atau event-event yang berkaitan dengan drone, pasti akan menarik kaum anak muda,” pungkas Andre sambil berharap.

Reporter : Enjang Sofyan
Foto : Andrew Julian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *