Darat Transportasi

IPOMI : Butuh Dukungan Pemerintah, Bukan Investasi Asing

INTRA – Dihapusnya bidang usaha angkutan pariwisata dari Daftar Negatif investasi (DNI) hingga terbuka untuk investasi asing 100%,  mendulang reaksi Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI). Soal investasi, “Kami mampu,” kata Ketua IPOMI Kurnia Lesani Adnan kepada INTRA, (19/11) lalu.

Keputusan pemerintah melalui Menteri Kooordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution untuk menghapus 54 bidang usaha dari Daftar Negatif Investasi (DNI) dengan Paket Kebijakan Ekonomi XVI pada tanggal 16 November, lalu menuai reaksi sejumlah pihak. Satu diantaranya dari  Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI).

Satu dari 54 bidang usaha tersebut adalah membuka investasi bagi angkutan orang dengan moda darat tidak dalam trayek, yakni angkutan pariwisata dan angkutan tujuan tertentu. Tentu saja membuat para pengusaha bus meradang. Mereka menilai pemerintah bukan saja membuka investasi asing 100%, namun juga membuka ‘kompetisi’ baru yang tidak seimbang.

Pemerintah sendiri beralasan jika DNI adalah kebijakan promotive, bukan protektif. Seperti yang disampaikan Staf Khusus Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Edy Putra Irawadi kepada media (16/11) lalu. Pemerintah tidak akan melakukan nasionalisasi. Investor dibebaskan menggunakan devisa, serta perizinan dipermudah, “Permainan di lapangan kita buka,” ungkapnya.

Beberapa bidang usaha dinaikkan tingkat kepemilikan asingnya, termasuk sektor UMKM yang dibuka dengan pola kemitraan. Baik dalam bentuk Penanaman Modal Asing (PMA) atau Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).

Pemerintah menilai pelaku Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM) tak perlu khawatir, “Kalau UMKM itu Rp 10 miliar. Tapi kalau PMA harus di atas itu. Artinya lapangan sudah beda. Dia (asing) bisa masuk ke PMA, bisa juga masuk ke PMDN hingga 100%,” ujarnya. Lalu bagaimana dengan bidang angkutan pariwisata atau angkutan tujuan tertentu? Tentu saja tidak semudah menganalogikan UMKM.

Ketua Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan tegas meyakini jika para pengusaha bus sesungguhnya mampu untuk maju dan berkembang tanpa investasi asing, “Kita yakin 100% mampu,” ujarnya kepada INTRA, (19/11) lalu.

Ia mencontoh sejumlah Perusahan Otobus (PO) yang tergolong ‘legend,’ seperti PO NPM (Naikilah Perusahaan Minang), yang didirikan Bahauddin Sutan Barbangso Nan Kuniang pada tahun 1937 di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat.

Hingga kini PO NPM melayani rute Medan, Dumai, Pekanbaru, Jambi, Bengkulu, Palembang, Bandar Lampung dan kota-kota di Pulau Jawa, seperti Jakarta, Bogor, Bekasi hingga Bandung. Begitupun PMTOH (Aceh), PO ALS (Sumatera Utara), PO ANS (Sumatera Barat), dan PO Gumarang Jaya (Lampung), mereka masih mendominasi jalan raya lintas Sumatera, baik Lintas Tengah maupun Lintas Timur. Atau puluhan PO yang berada di Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi yang hingga kini masih merajai aspal.

Usia PO di Indonesia memang terbilang matang pengalaman karena diteruskan dari generasi ke generasi. Mereka mampu bertahan dengan pelbagai dinamika perekonomian, termasuk kondisi infrastruktur (yang dulu) tidak ramah. 

Usaha yang mereka bangun secara mandiri tanpa dukungan pemerintah, tentu sebuah dedikasi yang patut diapresiasi. Setidaknya, langkah yang mereka lakukan telah banyak membantu pemerintah dalam menyediakan layanan transportasi bagi publik dari masa ke masa.

Dan saat pembangunan infrastruktur jalan kini terbilang ‘ramah’ bagi kendaraan, momentum yang menggairahkan banyak PO nasional justru dihadapkan pada realitas dibukanya investasi asing untuk andil mengelola bisnis angkutan.

“Mereka yang datang dengan modal lebih ini akan menjadi predator, kami anak bangsa akan diadu oleh mereka yang dari luar, seharusnya kami ini diproteksi,” ungkap Ketua IPOMI yang akrab disapa Bang Sani.

Karena ia menilai, jika hanya karena ingin mendatangkan investasi dibidang angkutan pariwisata dan angkutan tujuan tertentu, sesungguhnya PO nasional mampu mengupayakan sendiri. “Kita berharap bukan membuka investasi asing dibidang angkutan tapi dukungan pemerintah pada perusahaan otobus nasional yang selama ini bertahan dan tumbuh secara mandiri,” jelasnya.

Penulis: Enjang Sofyan
Foto : instagram/ridwan_basir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *