Otomotif

Esemka Menggelinding dengan Pasti

INTRA – Mobil Esemka yang sempat menarik perhatian publik kini menunjukkan keperkasaannya. Hadir dengan beberapa varian dan merk, Esemka diharapkan menjadi kendaraan kebanggaan anak bangsa.

Kendaraan roda empat yang digadang-gadang bakal menjadi mobil nasional tersebut, perlahan mulai menggeliat kembali meramaikan pasar otomotif dalam negeri. Tak ingin nasibnya berakhir seperti era mobil nasional (mobnas) Timor yang berjaya di masa pemerintahan Orde Baru, Esemka pun memulai beberapa terobosan agar produknya semakin dikenal masyarakat luas. 

Saat diproduksi nanti, mobil Esemka akan diluncurkan dengan delapan tipe berbeda. Mobil tersebut berjenis penumpang, angkutan barang bak terbuka, minibus, dan kendaraan angkutan kabin ganda dengan bahan bakar bensin dan diesel.

Di antaranya adalah Garuda I 2.0 (4×4) MT, Bima 1.3 L (4×2) M/T, Bima 1.0 (4×2) M/T, Niaga 1.0 (4×2) M/T, Bima 1.8D (4×2) M/T, Bima 1.3 (4×2) M/T, Borneo 2.7D (4×2) M/T, dan Digdaya 2.0 (4×2) M/T. Yang membanggakan, kedelapan mobil itu telah lolos Sertifikasi Uji Tipe (SUT) yang dikeluarkan oleh Kementrian Perhubungan.

Kabar gembira ini pun langsung disambut hangat oleh pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang siap mendukung produksi mobil Esemka yang diproduksi di Boyolali, Jawa Tengah. Dengan ada mobil ini diharapkan menjadi cikal bakal mobil karya anak bangsa yang seluruh komponennya berasal dari dalam negeri.

Kepala Badan Penelitian dan ‎Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara, mengatakan bantuan yang akan diberikan Kemenperin khususnya dalam hal pasokan komponen.
“Kami membantu dalam penyiapan komponen, karena banyak industri kecil dan menengah khususnya di bidang logam yang kita arahkan untuk membantu menyumplai ke program mobil nasional ini,” ujar dia di Depok, Jawa Barat, (29/10) lalu.

Ngakan menuturkan, untuk saat ini komponen untuk mobil tersebut memang belum 100 persen dari dalam negeri. Namun demikian, dengan program hilirisasi yang dilakukan diharapkan ke depannya seluruh komponen yang dipakai mobil Esemka sudah bisa diproduksi di Indonesia.

“TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri) prinsipnya ketika masih belum bisa diproduksi di dalam negeri boleh ambil dari luar negeri, tetapi secara bertahap kita kurangi. Maka di dalam negeri juga harus diperkuat sehingga semakin sedikit nantinya yang diimpor,” ungkap dia.

Sementara dari sisi daya saing dengan mobil produksi Jepang yang sudah lama merajai Indonesia, dirinya menilai memang perlu ada keberpihakan dari pemerintah agar produknya bisa diminati masyarakat.

Namun, bukan berarti pemerintah mengabaikan investasi asing yang juga ingin memproduksi mobilnya di Indonesia. Tetapi memang pemerintah tetap akan memberikan ruang gerak bagi investor yang mau masuk agar bisa berproduksi di sini, karena semua akan memberikan kontribusi pada ekonomi nasional.

Sebelumnya, nama Esemka kembali muncul. Kabarnya pabrik mobil di Boyolali, Jawa Tengah tersebut mulai menggeliat dengan  aktivitasnya. Pabrik yang memproduksi mobil Esemka berlokasi di Desa Demangan, Sambi, Boyolali, terlihat mobil-mobil berjajar rapi di halaman sisi timur.

Mobil tersebut berjenis pikap dan terdiri atas dua warna berbeda yakni putih dan abu-abu. Sekilas bak terbuka mobil-mobil itu memang terlihat seperti pikap pada umumnya, namun bagian depannya memiliki bentuk lain.

Mulai Diproduksi

Mobil Esemka dibawah PT Solo Manufaktur Kreasi selama melakukan kegiatan usahanya sama sekali tidak mendapatkan fasilitas, dana, bantuan, insentif dan kemudahan dalam bentuk apapun dari pemerintah. Semua kegiatan operasional dijalankan sesuai prosedur dan peraturan berlaku.

Perusahaan tersebut juga memastikan bahwa mobil Esemka adalah produksi nasional atau dalam negeri. Pembuatan mobil Esemka mengandalkan fasilitas atau pabrik mobil Esemka di Jalan Sambi Mangu KM 3, Boyolali, Jawa Tengah.

Sementara Kementerian Perhubungan pun menjamin pemerintah tak memberi kemudahan prosedur kepada produsen mobil Esemka, PT Solo Manufaktur Kreasi. Perseroan diwajibkan memenuhi semua prosedur kelayakan dari awal untuk mendapatkan sertifikat aman sesuai dengan peruntukan, seperti mobil penumpang dan mobil muatan barang.

“Esemka kan juga pernah gagal uji coba,” kata Kepala Balai Pengujian Laik Jalan dan Sertifikasi Kendaraan Bermotor, Caroline Noorida Aryani saat dihubungi INTRA, (30/10) lalu.

Menurut dia, Kementerian sangat ketat meloloskan kepatutan sebuah kendaraan untuk diproduksi massal. Sebab, diperlukan jaminan keselamatan bagi pengendara dan penumpang. Merek terkenal dari luar negeri sekalipun banyak yang harus remedial untuk mendapat sertifikasi layak kendaraan dasar sebelum mendapatkan sertifikat uji tipe (SUT).

Berdasarkan catatan Kementerian Perhubungan, mobil Esemka sudah berkali-kali gagal lolos uji emisi. Kegagalan pertama terjadi pada 2010. Dua tahun berselang, Esemka kembali gagal mendapat sertifikasi layak polusi. Empat varian mobil Esemka berbahan bakar bensin yang sudah lulus sertifikasi Euro 3 diwajibkan memenuhi standar Euro 4. Memang, membuat mobil nasional tak semudah membuat tempe goreng. Perlu kesungguhan, teknologi mutakhir dan biaya yang besar untuk mewujudkannya. Namun, hal itu tidak jadi persoalan sulit  jika pemerintah dan rakyatnya mau menyingsingkan lengan baju. Bekerja keras bersama dengan visi dan misi yang sejalan. Semoga berhasil Esemka!

Penulis : Alan
Foto : Istimewa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *